Sejarah dan Kebudayaan roma
Awal
Mula Romawi
Romawi Kuno adalah sebuah peradaban yang tumbuh dari negara-kota Roma didirikan di Semenanjung
Italia di sekitar abad ke-9 SM dan seiring waktu
, romawi menjadi kekaisaran kuat yg menguasai laut tengah.
Peta Dunia Romawi kuno
Menurut kepercayaan, kata Romawi berasal dari
nama kakek moyang bangsa Romawi, yaitu Remus dan Romulus.
Kedua orang tersebut adalah anak dari Rhea Silva (cucu raja Numitor), salah satu keturunan Aeneas (pahlawan Perang
Troya) sedangkan ayah nya adalah Mars seorang dewa perang romawi kuno. Tetapi karena Rhea Silva adalah seorang pendeta perawan. Semasa kecil
mereka disusui dan dibesarkan oleh seekor serigala (jadijadian) karena Ibu
mereka sebagai seorang pendeta perawan jadi dengan terpaksa Rhena menitipkan
anak nya katika Raja Amulius mengambil alih tahta nyawa nya di ampuni oleh raja Amulius jika
dia mau jadi pendeta perawan. Sewaktu dalam pengasuhan serigala jejadian ini, Romulus dan Remus
ditemukan oleh seorang penggembala yang bernama Faustulus yang kemudian bersama
istrinya, Acca Larentia, mengangkat dan mengasuh kedua anak ini hingga dewasa .
Lupa Capitolina (Capitoline Wolf)
Lalu singkat cerita kedua bersaudara ini sudah tumbuh
dewasa dan menjadi pengembala akan tetapi mereka terlibat pertikaian dengan
pengembala raja Amulius (adik
kandung raja Numitor ) dan remus di hukum kerajaan lalu saudaranya
Romulus berusaha untuk menyelamatkan saudara nya dan akhir ny perang tidak bisa
di hindari dan raja Amulius pun tewas di tangan Romulus.
kemudian Romulus dan Remus dianugerahi tahta
kerajaan yang memang sudah menjadi hak mereka semenjak lahir , tapi keduanya
menolak dan memberikan tahta kerajaan itu kembali ke kakek mereka, Numitor.
Mereka lebih memilih untuk memulihkan nama baik ibu mereka, Rhea, dan
mendirikan kota mereka sendiri. Akhirnya kedua saudara kembar ini pun berangkat
meninggalkan Alba Longa dengan ditemani oleh sekelompok orang dengan berbagai
macam latar belakang seperti buronan, budak pelarian dan mereka yang
menginginkan kesempatan kedua di tempat baru dengan penguasa yang baru pula.
Kedua saudara kembar ini kemudian terlibat
argumentasi di antara mereka pada saat menentukan tempat terbaik untuk
mendirikan kota mereka. Romulus ingin mendirikannya di bukit Palatine sementara
Remus ingin mendirikannya di bukit Aventine. Akhirnya mereka sepakat untuk
menggunakan metode nujum suci dalam menentukan tempat terbaik pendirian kota
mereka. Nujum itu bernama “Augury”, yaitu
sebuah nujum dari kepercayaan pagan Romawi Kuno yang bertujuan untuk
mengartikan kehendak Ilahi dengan menggunakan metode membaca aktivitas burung
yang terbang di sekitar tempat mereka berada. Caranya adalah mereka akan
mengartikan dari jenis burung, arah terbang, cara terbang (berkelompok atau
sendiri) sampai dengan suara yang dikeluarkan sewaktu burung-burung itu sedang
terbang.
Kemudian, kedua saudara kembar inipun berdiri
di atas masing-masing bukit pilihan mereka, menarik garis batas suci di antara
mereka berdua dan memilih untuk memantau aktivitas burung elang dan burung
bangkai sebagai tanda daerah mana yang akan dipilih oleh para dewa. Setelah
melewati waktu yang ditentukan, Remus menyatakan melihat 6 ekor burung
sementara Romulus menyatakan melihat 12 ekor burung. Sesuai dengan kesepakatan,
mana yang lebih banyak melihat jumlah burung adalah pihak yang menang, maka
Romuluspun menyatakan diri sebagai pemenangnya. Namun Remus menolak pernyataan
Romulus dengan mengatakan dirinyalah yang pertama kali melihat kemunculan
burung-burung itu. Dengan kesal Romulus akhirnya memperjelas batas area antara
dirinya dengan Remus dengan membuat tembok dan parit di sekitar bukit Palatin.
Melihat itu Remus secara diam-diam berusaha untuk melompati pagar pembatas itu
dengan tujuan penghinaan. Akibatnya Remus tewas dibunuh oleh saudaranya
sendiri. Di saat itu Romulus berkata : “Mulai dari saat ini, hancurlah
mereka yang melompati pagarku!”. Kemudian
dengan rasa sedih dan penuh penghargaan, Romulus mengubur saudaranya Remus.
Atas saran Publius Ovidius Naso atau yang lebih dikenal dengan
nama Ovid, seorang pujangga Roma yang terkenal pada saat itu, Romulus kemudian
membuat sebuah Festival Hari Raya Lemuria, yang bertujuan untuk mengusir hantu
Remus dari kota Roma. Hari Raya Lemuria, adalah sebuah hari raya pagan yang
bertujuan untuk melakukan ritual pengusiran roh-roh jahat dan roh-roh orang
mati dari rumah-rumah mereka. Ritual ini dirayakan setiap bulan May tanggal 9
dan 11, serta puncak acaranya di setiap tanggal 13 setiap tahunnya. Dengan
alasan ini, orang-orang Roma pantang melangsungkan pernikahan pada bulan May,
karena bulan May adalah bulan bagi kematian, sehingga lahirlah pepatah kuno
Roma yaitu: “Akan Sakit Bagi Mereka yang Nikah Pada Bulan
May (Mense Maio malae nubent)”. Festival Lemuria ini kemudian
diadopsi oleh Paus Bonifasius IV menjadi Hari Raya Kudus umat Kristiani, yang
kemudian lambat laun tanggal penyelenggaraannyapun dirubah dari tanggal 13 May
menjadi setiap tanggal 1 November, setiap tahunnya.
Dengan tewasnya Remus, maka tidak ada lagi yang menghalangi
Romulus untuk mendirikan kota yang diberi nama mirip dengan namanya yaitu Roma.
Pendirian kota Roma ini juga sebagai awal dari tarikh kalender yang digunakan
oleh bangsa Romawi (sebelum tanggalan Masehi ada), yang dikenal dengan
nama Ab Urbe Condita atau AUC. Apabila dalam perhitungan Masehi kota Roma ini
berdiri pada 753 SM, maka 1 AUC = 753 SM.
Perkembangan
Romawi kuno
-
Pemerintahan
Sejak awal berdiri pada awal
terbentuknya romawi sekitar tahun 750SM sistem pemerintahan Romawi
adalah monarki/kerajaan yang
dipimpin oleh seorang raja . Semua raja Romawi dipilih oleh rakyat Roma kecuali
Romulus yang menjadi raja karena dia yang mendirikan Roma.
Dengan
asumsi bahwa raja berdaulat penuh dan memegang kekuasaan tertinggi negara, maka
raja juga adalah sekaligus: Kepala pemerintahan - memiliki kekuasaan untuk menegakkan hukum, mengelola semua harta milik negara, dan mengawasi semua pekerjaan umum
Kepala Negara - mengatur hubungan dengan kerajaan lain dan menerima duta besar.
Pemimpin Legislatif - merumuskan dan mengajukan undang-undang.
Panglima tertinggi - komandan militer Romawi dengan kekuasaan mengatur legiun, menunjuk pemimpin militer, dan menyatakan perang.
Pemimpin keagamaan - mewakili Romawi dan rakyatnya di hadapan para dewa, memiliki kendali administratif atas agama Romawi.
Hakim Agung - mengambil keputusan mengenai semua kasus pidana dan perdata.
Kepala pemerintahan
Raja diberikan kekuasan pemerintahan, kehakiman, dan militer tertinggi dengan penggunaan imperium. Imperium dimiliki raja seumur hidupnya dan membuat raja kebal terhadap pengadilan. Sebagai pemilik tunggal imperium di Roma pada saat itu, raja memiliki kekuasaan eksekutif tertinggi serta kekuasaan militer sebagai panglima tertinggi seluruh legiun Romawi. Selain itu, hukum yaang menjaga warga negara dari penyalahgunaan magistratus yang memiliki imperium, tidak ada pada masa raja.
Kekuasaan raja yang lainnya adalah hak untuk menunjuk atau mencalonkan pejabat pada semua jabatan. Raja menunjuk tribunus celerum untuk bertugas sebagai tribunus suku Ramnes di Roma sekligus sebagai komanan pengawal pribadi raja, Celeres. Raja diharuskan menunjuk tribunus ketika mulai menjabat dan ketika akan meninggal. Tribunus merupakan jabatan tertinggi kedua setelah raja dan juga memiliki hak untuk memanggil rapat Majelis Curiate.
Jabatan lainnya yang ditunjuk oleh raja adalah praefectus urbi, yang bertindak sebagai penjaga kota. Ketika raja sedang berada di luar kota, prefek memiliki semua kekuasaan dan hak raja, bahkan diberikan imperium selama berada di dalam kota.
Raja juga merupakan satu-satunya orang yang bisa mengangkat bangsawan menjadi anggota Senat.
Pemimpin keagamaan
Raja memiliki hak pada auspicium atas nama Roma dan kepala augurnya, dan tidak ada bisnis publik yang dapat dilaksanakan tanpa kehendak dewa menjadikan asupicium penting. Orang-orang mengenal raja sebagai perantara antara manusia dengan dewa (pontifex, "pembangun jembatan") dan dengan dimikian mereka memandang raja dengan sangat religius. Ini menjadikan raja sebagai pemimpin agama negara. Raja bisa mengatur kalender Romawi, dia juga menyelenggarakan semua upacara keagamaan dan menunjuk pejabat keagaamaan yang lebih rendah. Diceritakan bahwa Romulus merupakan pendiri jabatan augur sekaligus merupakan augur terhebat. Demikian juga raja Numa Pompilius, yang mengembangkan dasar-dasar dogma keagamaan Romawi.
Pemimpin legislatifDi bawah kepemimpinan raja, lembaga legislatif (Senat dan Majelis Curiate) hanya memiliki sedikit kekuasaan; mereka bukanlah lembaga yang independen karena mereka tidak memiliki hak untuk berkumpul dan mendiskusikan masalah kenegaraan sesuai kehendak mereka. Mereka hanya bisa berkumpul jika dipanggil oleh raja dan hanya boleh mendiskusikan masalah sesuai keinginan raja. Walaupun begitu, Majelis Curiate memiliki hak untuk meluluskan hukum yang diusulkan oleh raja, sedangan senat berfungsi sebagai dewan kehormatan. Senat bertugas menasihati raja namun tidak bisa mencegah tindakan raja. Satu-satunaya tindakan raja yang tidak boleh dilakukan tanpa persetujuan Senat dan Majelis Curiate adalah menyatakan perang terhadap negara lain.
Hakim agung
Memiliki imeperium memjadikan raja berhak menentukan putusan dalam semua kasus pengadilan, karena raja juga dapat berfungsi sebagai sebagai kepala keadilan Roma. Meskipun raja bisa menunjuk pontif untuk bertugas sebagai hakim dalam perkara-perkara kecil, raja memiliki otoritas tertinggi dalam semua kasus yang dibawa ke hadapannya, baik perkara pidana maupun perdata. Ini menjadikan raja sangat berkuasa baik dalam masa damai maupun dalam masa perang. Beberapa sejarawan percaya bahwa keputusan raja tidak dapat diganggu gugat dan dengan dimikian tidak dapat dilakukan banding. Namun beberapa sejarawan lainnya meyakini bahwa permohonan banding dapat diajukan pada raja oleh kalangan bangsawan pada pertemuan Majelis Curiate.
Untuk membantu raja, sebuah dewan bertugas menasihati raja selama
persidangan, namun rajalah yang berhak menentukan putusan akhirnya. Raja juga
menunjuk dua detektif kriminal (Quaestores Parridici) sebagai pengawas pada
kasus-kasus pengkhianatan. Menurut Livius, Tarquinius Superbus, raja ketujuh
dan terakhir Romawi, menghakimi kasus-kasus kriminal tanpa penasihat, sehingga
menciptakan ketakutan pada orang-orang yang hendak melawannya.[8]
Ketika Republik Romawi pertama kali didirkan pada 500 SM, raja diganti oleh
dua orang yang disebut konsul, sedangkan senat tetap ada. Perempuan tidak
diperbolehkan menjadi konsul. Kedua
konsul memegang kendali atas pasukan, behak menyatakan perang, menentukan
jumlah pajak, dan membuat hukum. Suatu keputusan harus disetujui oleh kedua
konsul; jika salah seorang mengatakan “veto”
(aku tolak), maka keputusan tidak jadi dilaksanakan.
Konsul dibantu oleh senat sebagai dewan penasihat. Senat terdiri dari keluarga-keluarga kaya di Romawi.
Perempuan tidak diperbolehkan menjadi anggota senat. Jabatan senator (anggota
senat) merupakan jabatan seumur hidup. Kebanyakan konsul pada akhirnya
bergabung dengan senat, dan kebanyakan senator memiliki ayah atau kakek yang
dulunya juga menjabat di senat. Para konsul sering melaksanakan apa yang
diusulkan oleh senat.
Ada juga prefek di Romawi, mereka bertugas mengurusi kota, beberapa
mengadili kasus, beberapa yang lainnya mengatur pasar atau pelabuhan. Selain
itu, ada Tribunus, yaitu orang-orang di senat yang mewakili rakyat miskin.
Tribunus dipilih oleh Majelis. Tribunus berhak memveto keputusan senat yang
berkenaan dengan rakyat miskin. Sementara Majelis adalah kumpulan yang terdiri
dari para pria dewasa dan merdeka di Romawi. Mereka berhak memberikan suara
jika dimintai oleh konsul, mislnya harus pergi berperang atau tidak. Majelis
juga memilih konsul, prefek, dan senator. Namun Majelis sudah diatur sedemikian
rupa sehingga orang kaya bisa lebih bnyak memilih daripada orang miskin. Baik
prefek, Tribunus, atau Majelis hanya boleh diisi oleh laki-laki.
Setelah Romawi menaklukan berbagai daerah yang jauh dari kota Roma, mereka
pun menerapkan sistem provinsi.
Setiap provinsi dipimpin oleh gubernur.
Gubernur memegang kendali atas pasukan di provinsinya. Gubernur biasanya
berasal dari kalangan jenderal.
Menjelang tahun 50 SM, yakni masanya Julius Caesar, jenderal-jenderal ini
mulai mengambil alih pemerintahan dan mengabaikan senat serta konsul. Mereka
bisa melakukannya karena memiliki pasukan.
Augustus, pada 31 SM, adalah salah satu jenderal ini. Dia berhasil
mendirikan suatu sistem baru. Lembaga senat dan jabatan konsul tetap disteruskan
namun Augustus menjadikan dirina memiliki kekuasaan tertinggi. Dia berhasil
membuat senat menjadikannya dirinya sebagai Tribunus, sehingga Augustus bisa
memveto keputusan senat yang tidak dia sukai. Augustus juga memegang kendali
atas pasukan sehingga dia bisa menyingkirkan orang yang menghalangi jalannya.
Sistem ini, yaitu Romawi dipimpin oleh kaisar namun senat dan konsul tetap
ada, terus berjalan selama 1500 tahun sampai akhirnya Romawi runtuh.
